Cinta
yang Akan Datang Dihari Senja
Hari ini adalah hari yang baru untuk
hidupku. Kenapa ini kusebut hari yang baru? Karena ini hari dimana aku masuk
dalam jenjang sekolah yang lebih tinggi. Banyak hal yang aku persiapankan untuk
menempuh jenjang sekolah yang lebih tinggi. Banyak hal yang aku pelajari dari
semua kegiatan yang aku lakukan sebelum aku mengalami ini. Hal kecil yang
berhargapun aku alami.
Hingga pada sore hari yang cerah aku
pulang dari kegiatan rutinitasku. Aku berjalan pulang menuju gerbang dengan
sendiri. Namun dalam batinku aku berkata
“Aku hanya berjalan sendiri. Mengapa
teman cewek dan cowokku yang belum lama kenal bisa berjalan berdampingan
bersama dengan asyiknya?” Tanyaku dalam hati
Akupun tetap melanjutkan perjalanan
pulangku dengan menaiki kendaraan umum sambil melupakan kejadian yang tadi aku
lihat. Sampai pada suatu daerah ada seorang gadis yang akan melarikan diri dari
siksaan sang ayah. Gadis itu bersih keras ingin naik angkutan yang aku tumpangi.
Dalam benakku aku ingin membantunya pergi dari situ namun aku hanyalah
penumpang yang tidak tahu apa yang sedang menjadi permasalahan kelurga itu.
Sopir dari angkutan umum itupun melerai dari pertikaian itu. Hingga sang gadis
itu turun dan menemui bapaknya.
Hari yang kulewati sangatlah cepat.
Hingga aku mengenal seorang cowok yang tampan dan baik hati. Dia begitu rupawan
nan menawan. Aku tak bisa berkata banyak tentang cowok itu sebab dia hanyalah
temanku. Sebatas teman yang aku kenal seperti aku mengenal teman – temanku yang
lain. Hingga pada suatu hari ada seorang teman cewekku bernama Veronica dia berkata
kepadaku.
“Tatapan mata cowok itu sangat tajam
dalam melihatmu.” Pernyataan dari temanku
“Tidak.
Dia tidak melihatku melainkan melihat pemandangan yang indah disana. Itu hanya
perasaanmu saja teman. Masak iya menatapku dengan tajam?” Balasanku.
“Benar
aku tidak berbohong. Dia benar – benar menatapmu dengan tajam percayalah
kepadaku.” Jawabnya
Namun,
aku tetap tidak percaya dan aku berpikir bahwa mana mungkin dia melihatku
dengan tajam. Aku hanyalah murid yang biasa saja tidak ada yang lebih dariku
layaknya anak SMA pada jaman sekarang. Dengan penampilanku yang begitu
sederhana mana mungkin dia dapat melihatku dengan tatapan yang tajam. Ketidak
percayaanku muncul dan aku berpikir bahwa dia adalah temanku yang aku kenal
saat SMA ini.
Aku
tidak percaya sebab dia adalah cowok yang cukup dikenal di sekolah ini. Siapa
yang tidak tahu dirinya. Anak organisasi yang hitz. Kerupawan dan kebaik
hatiannya yang membuat dia terkenal. Disisi lain tetapi dia terlalu cari
perhatian terhadap cewek yang cukup cantik. Walaupun begitu dalam benakku aku
mengaguminya diam – diam. Tidak ada temanku yang tahu bahwa aku mengaguminya.
Hanya dirikulah yang tahu. Disitu aku mulai mencari banyak hal tentangnya. Dari
hal yang disukainya hingga hal yang dibencinya. Alamat rumah, cita- cita
hidupnya, dia punya berapa saudara, dari keluarga yang bagaimana aku berusaha
mencari tahu dan waktu dulu masih SMP dia bagaimana. Aku banyak bertanya dengan
teman sekelasku yang dulu pernah satu SMP dengannya.
Ternyata
dia baik hati orangnya dan cukup pintar. Menurutku juga dia orangnya tidak suka
sombong, konyol, dan suka bercanda. Namun, dia kurang begitu serius dalam
menghadapi masalah. Ada hal buruk yang sering dia lakukan. Sampai suatu saat
aku mulai berbicara dengan temanku.Teman yang aku percaya bisa menjaga rahasia
semua privacyku. Aku bertanya dengan temanku
“Veron?
Aku mau tanya sama kamu. Kamu pernah bilang kepadaku bahwa dia pernah melihatku
dengan tatapan tajam. Iya bukan?”
“Iya.
Bagaimana Icha?” Jawab Veron
“Aku
berusaha untuk mencari tahu tetangnya Veron. Namun, aku baru cerita denganmu
sekarang. Aku sebenarnya mengaguminya. Sebelum kau bilang seperti itu kepadaku,
aku sudah kagum dengannya sebelumnya. Namun, aku tidak percaya dengan
perkataanmu. Sebab aku tidak ingin terluka hanya aku terlalu berharap dan
kepedean. Aku ingin menjadi pemujanya yang hanya diketahui kita dan Tuhan.”
Jelasku
“Apa?
Kau mengaguminya? Terlambat Icha. Kenapa kau baru bicara sekarang setalah
berapa bulan kita sekolah disini. Aku berkata denganmu sudah sejak kapan Icha?
5 bulan yang lalu aku berkata denganmu. Baru sekarang kau berkata itu
kepadaku?” Tanya Veron
“Kenapa
kau kaget Veron? Aku ingin hanya aku yang tahu bahwa aku mengaguminya. Aku
tidak ingin banyak orang yang tahu dan dia menjauh dariku. Tidak banyak orang
yang taupun sikap dia kepada sangatlah biasa. Bagaimana dengan banyak orang
yang tahu? Mungkin dia bisa menjauh dari hidupku. Aku sangat tidak ingin itu
Veron.” Jawabku
“Tapi
Icha..... Kamu terlambat.” Jelas Veron
Aku
menjawab “Maksud kau terlambat bagaimana? Apakah dia sudah memiliki pasangan
yang jauh lebih dariku? Terlambat bagaimana Veron?
“Beberapa
bulan ini dia dekat dengan cewek sekelasnya. Kata teman – teman sekelasnya
mereka berdua sangatlah akrab dan penuh kemistri. Di dalam kelas mereka sering
berdua hingga pernah mereka berdua foto bersama lalu diupload dalam facebook
dan line. Aku sebenarnya juga ingin mengatakan ini kepadamu. Tapi aku melihatmu
baik – baik saja tanpa kabarnya aku pendam saja semua ini.” Jawab Veron dengan
wajah yang merasa bersalah dan kecewa.
“Apakah
bener yang kau bicarakan barusan terhadapku Veron? Aku tak percaya itu. Aku
belum melihat foto itu dan aku juga belum melihat mereka berdua berjalan
bersama ataupun berbicara bersama dengan asyiknya.” Aku menjawab dengan
perasaan yang penuh teka – teki.
“Ini
dia dan cewek itu. Menurut aku mending kamu sudah saja mengaguminya. Apa kamu
tidak sakit jika melihat hal seperti ini? Dia begitu mudahnya mendapatkan
perhatiannya sedangkan kamu yang sudah berbulan – bulan mengaguminya tidak ada
tindakan yang progress darinya. Sudahlah Cha cari yang lain dan lupakan dia.”
Jelas Veron sambil memperlihatkan foto itu
“Tidak
Veron aku akan terus berusaha. Aku tidak ingin menyerah begitu saja.” Jawabku
dengan penuh semangat.
“Tapi
Icha..... Ya sudah. Kalau maumu begitu.
Aku akan berusaha untuk membantumu dalam mencari informasi tentangnya.” Jelas
Veron
“Terimakasih
Veron kau sudah mau membantuku.” Jawabku dengan wajah ceria namun sedih juga.
Hingga
pada suatu saat dia benar – benar dengan seorang cewek berjalan bersama dan
bersandau gurau dengan bahagianya. Aku belum begitu percaya. Aku harus mencari
banyak bukti yang memperkuat kejadian itu.
Adanya
kejadian itu aku langung bercerita dengan Veronica.
“Verron,
aku kemarin melihatnya dengan wanita lain dengan as berjalan bersama dan
bersandau gurau dengan bahagianya. Aku belum begitu percaya. Aku harus mencari
banyak bukti yang memperkuat kejadian itu.
Adanya
kejadian itu aku langung bercerita dengan Veronica.
“Verron,
aku kemarin melihatnya dengan wanita lain dengan asyiknya” Tanyaku kepada
Veron.
“Apa?
Benarkan kataku sebelumnya?” Jawab Veron.
“Akun
belum percaya dengan hal itu. Aku akan mencari banyak bukti lahi. Aku tidak
akan menyerah begitu saja.” Sanggahku kepada Veron.
“Tapi
Icha dia sudah jelas – jelas dengan perempuan lain. Ayolah... kita berpikir ke
depan. Tenaga untuk berpikir hal yang lebih bermanfaat dibanding mengurusi dia
yang tidak tau diurusi.” Tegas Veron.
“Tidak
aku akan terus berusaha.” Jawabku sembari pergi dari Veron. Aku berpikir bahwa
itu adalah kebetulan semata.
Hari
demi hari berlalu. Namun, aku tidak melihat dia bersama cewek itu ataupun cewek
lainnya. Aku bergumam dalam hati.
“Menurutku
kejadian itu memang kebetulan semata saja. Nyatanya aku tidak melihat dia
dengan wanita itu lagi. Aku tidak banyak dalam menaruh harapan kepadanya. Aku
hanya ingin dia tau apa yang aku rasakan selama ini.”
Hingga
pada suatu hari aku mendapat kebahagiaan yang amat. Kebahagiaan itu adalah
adalah dapat duduk berbersebelahan dengannya. Hanya aku yang tau, apa yang aku
rasakan saat itu. Disitu banyak teman – teman yang sedang bersendau gurau. Aku
tidak memperlihatkan kegrogianku terhadapnya. Hingga pada suatu ketika aku
dapat tertawa bersamanya tanpa memikirkan betapa besar harapanku padanya.
Lambat
laun waktulah yang menjawab. Bagaimana mungkin dia respek kepadaku. Setelah
berapa lama aku mengaguminya. Dia menunjukkan sifat kepeduliannya kepadaku.
Entah bagaimana cara waktu menyampaikan itu kepadanya. Aku masih belum percaya.
Suatu
saat diabercerita dengan teman laki – lakinya yang membuatku sangat terkejut
mendengar hal itu. Dia berkata bahwa
“Sebenarnya
aku mengagumi Icha sejak lama. Tapi Icha terlihat biasa saja kepadaku bahkan
seperti tidak menaruh harapan kepadaku. Maka dari itu aku mengalihkan harapanku
kepada orang lain. Tapi aku tetap belum bisa. Aku juga tahu waktu Icha
melihatku dengan teman cewekku. Dia terlihat biasa saja.”
Itulah
pernyataan dia kepada temannya yang membuatku terkejut. Namun, aku berusaha
tetap bersikap biasa. Diapun tetap bersikap perhatian kepadaku dan aku membalas
dengan semestinya.
Akupun
tidak menyangkangka saat hari ulang tahunku tiba. Tidak seorang yang mengucapkan
pagi – pagi untuk mengucapkan itu. Sampai di sekolah teman – temanku bersikap
seperti tidak terjadi apa – apa. Tetapi dalam hati merasa bahagia karena tidak
ada ritual yang seperti biasanya. Namun, kejutan itu terjadi saat kita plang
sekolah.
Aku
tidak sengaja pulang akhir karena ada tugas yang harus aku selesaikan pada hari
itu. Setelah selesai itu aku langsung bergegas menuju tempat parkir dan
mengambil sepedaku. Tetapi tiba – tiba teman – temanku menangkapku dari
belakang dan mengikat tanganku hingga aku tidak bisa berkutik. Aku dibawa ke
tempat parkir dan aku diikat ketiang. Banyak air yang tumpah kebadanku, tepung
beserta telur juga tidak lupa diikutkan. Betapa kotornya baju dan badanku.
Ketika teman – temanku sudah puas melakukan hal itu. Keluarlah dia dengan
membawa kue bertuliskan I LOVE YOU. Itu adalah rencananya. Aku tidak bisa
berkata apa – apa pada saat itu.
Aku
sangat tidak menduga kejadian ini. Tidak terbersit sedikitpun tentang kejadian
itu dipikiranku. Aku sangat tidak menduga ini. Hingga pada akhirnya kita dapat
menjalani hidup seperti apa yang kita inginkan.
SELESAI